rss

Wednesday, October 21, 2009

Wanita Kerap Merasa Sakit Saat ML

INILAH.COM, Jakarta - Perempuan kerap mengalami rasa sakit saat ML. Namun tak banyal perempuan yang mengtungkapkan rasa sakit itu kepada pasangannya.


Selain tabu, mengungkapan rasa sakit saat ML, kerap dikhawatirkan akan menggangu kelangsungan ML.

Rasa sakit, nyeri atau perih itu bermula dari kurangnya lubrikasi pada vagina. Bila pasangan ML cukup paham dengan kesakitan itu bisa membantunya dengan membuat lebih santai, memperpanjang foreplay atau bila perlu menggunakan lubrikan.

Pada beberapa kasus, kesakitan itu muncul karena beberapa hal. Di antaranya vaginismus, yaitu kontraksi otot vagina berlebihan karena terlalu tegang atau takut luka.

Kondisi yang biasa muncul karena si wanita ML untuk pertama kalinya, atau karena si pria terlalu tancap gas. Perih juga dapat disebabkan oleh infeksi jamur. Penetrasi terlalu dalam dapat juga menyebabkan kesakitan dan demam.

Selain persoalan teknis ML, masalah yang lebih serius disebabkan oleh endometriosis, yaitu kondisi di mana endometrium, jaringan dalam uterus ternyata tumbuh di luar.

Rasa sakit dapat muncul karena ada kista dalam indung telur, gangguan pada otot panggul, kehamilan yang tumbuh di luar uterus, menopause yang menyebabkan vagina kering alami, ML terlalu cepat setelah kelahiran anak, dan ML saat penyakit kelamin mengganas.

Dapat juga disebabkan oleh luka pada saat melahirkan terutama setelah mengalami pengguntingan (episiotomy) pada perenium yaitu area antara vagina dan anus.

Rasa sakit saat ML tidak selalu perlu bantuan medis. Hanya kesabaran dan pengertian pasangan. Semisal, selepas melahirkan paling tidak berpuasa enam minggu sebelum memulai bercinta lagi.

Para pria dituntut lebih memahami kondisi fisik dan mental pasangannya. Apalagi menyangkut lubrikasi, sebab yang alami tentu lebih nyaman dan bermutu ketimbang mengandalkan pelumas dari apotek.

Sedangkan bantuan profesional kesehatan diperlukan jika rasa sakit itu makin membabi buta dan vagina tetap kering kerontang. Keadaan ini umumnya pada wanita yang memasuki masa menopause. Dokter biasanya memberi resep krim estrogen.

Jika bantuan medis tidak juga meredakan rasa sakit sepertinya sudah berada diluar wilayah fisik. Sebaiknya melakukan terapi psikologis, barangkali ada masalah lain dalam hubungan rumah tangga.

Sumber : www.inilah.com

Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment

Sharing

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 

Followers

My Bloglog